Demam berdarah Dengue
Demam berdarah atau
demam dengue (disingkat
DBD) adalah
infeksi yang disebabkan oleh
virus dengue.
Nyamuk
atau beberapa jenis nyamuk menularkan (atau menyebarkan) virus dengue.
Demam dengue juga disebut sebagai "breakbone fever" atau "bonebreak
fever" (demam sendi), karena demam tersebut dapat menyebabkan
penderitanya mengalami nyeri hebat seakan-akan tulang mereka patah.
Sejumlah
gejala dari demam dengue adalah
demam; sakit kepala; kulit kemerahan yang tampak seperti
campak; dan nyeri
otot dan
persendian.
Pada sejumlah pasien, demam dengue dapat berubah menjadi satu dari dua
bentuk yang mengancam jiwa. Yang pertama adalah demam berdarah, yang
menyebabkan pendarahan, kebocoran
pembuluh darah (saluran yang mengalirkan darah), dan rendahnya tingkat
trombosit darah (yang menyebabkan darah membeku). Yang kedua adalah sindrom renjat dengue, yang menyebabkan
tekanan darah rendah yang berbahaya.
Terdapat empat jenis virus dengue. Apabila seseorang telah terinfeksi
satu jenis virus, biasanya dia menjadi kebal terhadap jenis tersebut
seumur hidupnya. Namun, dia hanya akan terlindung dari tiga jenis virus
lainnya dalam waktu singkat. Jika kemudian dia terkena satu dari tiga
jenis virus tersebut, dia mungkin akan mengalami masalah yang serius.
Belum ada
vaksin
yang dapat mencegah seseorang terkena virus dengue tersebut. Terdapat
beberapa tindakan pencegahan demam dengue. Orang-orang dapat melindungi
diri mereka dari nyamuk dan meminimalkan jumlah gigitan nyamuk. Para
ilmuwan juga menganjurkan untuk memperkecil
habitat
nyamuk dan mengurangi jumlah nyamuk yang ada. Apabila seseorang terkena
demam dengue, biasanya dia dapat pulih hanya dengan meminum cukup
cairan, selama penyakitnya tersebut masih ringan atau tidak parah. Jika
seseorang mengalami kasus yang lebih parah, dia mungkin memerlukan
cairan infus (cairan yang dimasukkan melalui
vena, menggunakan jarum dan pipa infus), atau
transfusi darah (diberikan darah dari orang lain).
Sejak 1960-an, semakin banyak orang yang terkena demam dengue.
Penyakit tersebut mulai menimbulkan masalah di seluruh dunia sejak
Perang Dunia Kedua. Penyakit ini umum terjadi di lebih dari 110 negara. Setiap tahun, sekitar 50–100 juta orang terkena demam dengue.
Para ahli sedang mengembangkan obat-obatan untuk menangani virus
secara langsung. Masyarakat pun melakukan banyak usaha untuk membasmi
nyamuk.
Deskripsi pertama dari demam dengue ditulis pada 1779. Pada awal abad
ke-20, para ilmuwan mengetahui bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh
virus dengue, dan bahwa virus tersebut ditularkan (atau disebarkan) oleh
nyamuk.
Tanda dan gejala
Gambar yang memperlihatkan gejala demam dengue
Sekira 80% dari pasien (atau 8 dari 10 pasien) yang terinfeksi virus
dengue tidak menunjukkan gejala, atau hanya menunjukkan gejala ringan
(seperti demam biasa).
[1][2][3]
Sekira 5% dari orang yang terinfeksi (atau 5 dari 100) akan mengalami
infeksi berat. Penyakit tersebut bahkan mengancam jiwa sedikit dari
mereka. Pada sebagian kecil penderita ini, penyakit tersebut mengancam
jiwa.
[1][3]
Gejala akan muncul antara 3 dan 14 hari setelah seseorang terpajan
virus dengue. Seringkali gejala muncul setelah 4 hingga 7 hari.
[4]
Oleh karena itu jika seseorang baru kembali dari wilayah yang memiliki
banyak kasus dengue, kemudian ia menderita demam atau gejala lainnya
setelah lebih dari 14 hari dia kembali dari wilayah tersebut,
kemungkinan penyakitnya tersebut bukan dengue.
[5]
Seringkali, apabila anak-anak terkena demam dengue, gejala yang muncul sama dengan gejala
pilek atau
gastroenteritis (atau flu perut; misalnya,
muntah-muntah dan
diare).
[6] Namun, anak-anak mungkin mengalami masalah yang parah karena demam dengue.
[5]
Laju penyakit secara klinis
Gejala klasik demam dengue adalah demam yang terjadi secara
tiba-tiba; sakit kepala (biasanya di belakang mata); ruam; nyeri otot
dan nyeri sendi. Julukan "demam sendi" untuk penyakit ini menggambarkan
betapa rasa sakit yang ditimbulkannya dapat menjadi sangat parah.
[1][7] Demam dengue terjadi dalam tiga tahap: demam, kritis, dan pemulihan.
[8]
Pada fase demam, seseorang biasanya mengalami demam tinggi. ("Demam"
berarti bahwa seseorang mengalami demam.) Panas badan seringkali
mencapai 40 derajat
Celsius (104 derajat
Fahrenheit).
Penderita juga biasanya menderita sakit yang umum atau sakit kepala.
Fase febrile biasanya berlangsung selama 2 hingga 7 hari.
[7][8] Pada fase ini, sekira 50 hingga 80% pasien dengan gejala mengalami ruam.
[7][9]
Pada hari pertama atau kedua, ruam akan tampak seperti kulit yang
terkena panas (merah). Selanjutnya (pada hari ke-4 hingga hari ke-7),
ruam tersebut akan tampak seperti campak.
[9][10]
Bintik merah kecil (petechiae) dapat muncul di kulit. Bintik-bintik ini
tidak hilang jika kulit ditekan. Bintik-bintik ini disebabkan oleh
pembuluh
kapiler yang pecah.
[8] Penderita mungkin juga mengalami perdarahan ringan
membran mukus mulut dan hidung.
[5][7]
Demam itu sendiri cenderung akan berhenti (pulih) kemudian terjadi lagi
selama satu atau dua hari. Namun, pola ini berbeda-beda pada
masing-masing penderita.
[10][11]
Pada beberapa penderita, penyakit berkembang ke fase kritis setelah
demam tinggi mereda. Fase kritis tersebut biasanya berlangsung selama
hingga 2 hari.
[8] Selama fase ini, cairan dapat menumpuk di dada dan
abdomen. Hal ini terjadi karena pembuluh darah kecil bocor. Cairan tersebut akan semakin banyak, kemudian cairan berhenti
bersirkulasi di dalam tubuh. Ini berarti bahwa organ-organ vital (terpenting) tidak mendapatkan suplai darah sebanyak biasanya.
[8]
Karena itu, organ-organ tersebut tidak bekerja secara normal. Penderita
penyakit tersebut juga dapat mengalami perdarahan parah (biasanya dari
saluran gastrointestinal.)
[5][8]
Kurang dari 5% dari orang dengan dengue mengalami
renjat peredaran darah, sindrom renjat dengue, dan demam berdarah.
[5]
Jika seseorang pernah mengidap jenis dengue yang lain (“infeksi
sekunder”), kemungkinan mereka akan mengalami masalah yang serius.
[5][12]
Pada fase penyembuhan, cairan yang keluar dari pembuluh darah diambil kembali ke dalam aliran darah.
[8] Fase penyembuhan biasanya berlangsung selama 2 hingga 3 hari.
[5] Pasien biasanya semakin pulih dalam tahap ini. Namun, mereka mungkin menderita gatal-gatal yang parah dan
detak jantung yang lemah.
[5][8]
Selama fase ini, pasien dapat mengalami kondisi kelebihan cairan (yakni
terlalu banyak cairan yang diambil kembali). Jika terkena otak, cairan
tersebut dapat menyebabkan
kejang atau perubahan derajat kesadaran (yakni seseorang yang pikirannya, kesadarannya, dan perilakunya tidak seperti biasanya).
[5]
Masalah terkait
Sesekali, dengue dapat memengaruhi sistem lain di dalam tubuh manusia.
[8] Seseorang yang terkena dengue dapat menderita gejalanya saja, atau disertai gejala dengue klasik juga.
[6]
Tingkat kesadaran yang menurun terjadi pada 0,5–6% dari kasus parah.
Ini dapat terjadi apabila virus dengue menyebabkan infeksi di otak. Ini
juga dapat terjadi apabila organ vital, seperti hati, tidak berfungsi
dengan baik.
[6][11]
Kelainan
neurologikal
lainnya (kelainan yang memengaruhi otak dan saraf) dilaporkan terjadi
pada pasien yang mengalami demam dengue. Misalnya, dengue dapat
menyebabkan mielitis melintang dan sindrom Guillain-Barré.
[6] Meskipun hal ini hampir tidak pernah terjadi, dengue juga dapat mengakibatkan infeksi jantung dan
gagal ginjal akut.
[5][8]
Penyebab
Gambar yang diperbesar menunjukkan virus dengue (the cluster of dark dots near the center)
Demam dengue disebabkan oleh virus dengue. Dalam sistem ilmiah yang
menamakan dan mengklasifikasikan virus, virus dengue tersebut merupakan
bagian dari famili
Flaviviridae dan
genus Flavivirus. Virus lainnya juga merupakan bagian dari famili yang sama dan menyebabkan penyakit pada manusia. Contohnya, virus
yellow fever,
West Nile virus, St. Louis encephalitis virus, Japanese encephalitis virus,
tick-borne encephalitis virus, Kyasanur forest disease virus, and Omsk hemorrhagic fever virus all belong to the family
Flaviviridae..
[11] Most of these viruses are spread by mosquitoes or ticks.
[11]
Penularan
Dengue virus ditularkan (atau disebarkan) sebagian besar oleh nyamuk
Aedes, khususnya tipe nyamuk
Aedes aegypti.
[2] Nyamuk ini biasanya hidup di antara
garis lintang 35° Utara dan 35° Selatan, di bawah
ketinggian 1000 m.
[2] Nyamuk-nyamuk tersebut lebih sering menggigit pada siang hari.
[13] Satu gigitan dapat menginfeksi manusia.
[14]
Terkadang, nyamuk juga tertular dengue dari manusia. Jika nyamuk
betina yang menggigit orang yang terinfeksi, nyamuk tersebut dapat
tertular virus. Mulanya virus hidup di sel yang menuju
saluran pencernaan nyamuk. Sekira 8 hingga 10 hari berikutnya, virus menyebar ke
kelenjar saliva nyamuk, yang memproduksi
saliva
(atau "ludah"). Ini berarti bahwa saliva yang diproduksi oleh nyamuk
tersebut terinfeksi virus dengue. Oleh karena itu ketika nyamuk
menggigit manusia, saliva yang terinfeksi tersebut masuk ke dalam tubuh
manusia dan menginfeksi orang tersebut. Virus sepertinya tidak
menimbulkan masalah pada nyamuk yang terinfeksi, yang akan terus
terinfeksi sepanjang hidupnya. Nyamuk
Aedes aegypti adalah nyamuk
yang paling banyak menyebarkan dengue. Ini karena nyamuk tersebut
menyukai hidup berdekatan dengan manusia dan makan dari manusia
alih-alih dari binatang.
[15] Nyamuk ini juga suka bertelur di wadah-wadah air yang dibuat oleh manusia.
Dengue juga dapat disebarkan melalui produk darah yang telah terinfeksi dan melalui
donasi organ.
[16][17] Jika seseorang dengan dengue
mendonasikan darah
atau organ tubuh, yang kemudian diberikan kepada orang lain, orang
tersebut dapat terkena dengue dari darah atau organ yang didonasikan
tersebut. Di beberapa negara, seperti Singapura, dengue biasa terjadi.
Di negara-negara ini, antara 1,6 dan 6 transfusi darah dari setiap
10.000 menularkan dengue.
[18] Virus dengue juga dapat ditularkan dari ibu ke anaknya selama
kehamilan atau ketika anak tersebut dilahirkan.
[19] Dengue biasanya tidak ditularkan dengan cara-cara lain.
[7]
Risiko
Dibandingkan dengan orang dewasa, bayi dan anak kecil yang menderita
dengue lebih berisiko mengalami infeksi yang serius. Anak-anak cenderung
berisiko mengalami sakit berat apabila mereka tergolong anak-anak yang
berkecukupan gizi (jika mereka sehat dan memakan makanan bergizi).
[5] (Ini berbeda dari banyak infeksi lainnya, yang biasanya lebih parah terjadi pada anak-anak yang termasuk golongan
kurang gizi,
tidak sehat, atau tidak memakan makanan bergizi.) Perempuan lebih
cenderung terserang sakit yang lebih parah daripada laki-laki.
[20] Dengue bisa mengancam jiwa pada pasien dengan penyakit kronis (jangka panjang), seperti
diabetes dan
asma.
[20]
Mekanisme
Apabila nyamuk menggigit orang, air liur nyamuk tersebut masuk ke
kulit orang tersebut. Jika nyamuk tersebut mengandung dengue, virus
terbawa dalam air liurnya. Sehingga apabila nyamuk tersebut menggigit
orang, virusnya masuk ke dalam kulit orang tersebut bersama air liur
nyamuk. Virus tersebut tertanam dan memasuki
sel darah putih
orang tersebut. (Sel darah putihnya seharusnya membantu pertahanan
tubuh dengan memerangi ancaman, seperti infeksi.) Ketika sel darah putih
tersebut bergerak-gerak di dalam tubuh, virus memproduksi kembali (atau
memperbanyak diri). Sel darah putih bereaksi dengan cara memperbanyak
protein
pengisyarat (apa yang disebut dengan sitokin), seperti faktor-faktor
interleukin, interferon dan tumor nekrosis. Protein ini menyebabkan
demam, gejala yang menyerupai flu, dan rasa nyeri yang luar biasa yang
terjadi bersama dengue.
Jika seseorang menderita infeksi (serius), virus bereproduksi dengan
lebih cepat. Dengan semakin banyaknya virus, semakin banyak pula organ
(seperti
hati dan
sumsum tulang)
yang terkena dampaknya. Cairan dari aliran darah bocor melalui
dinding-dinding pembuluh darah kecil ke dalam rongga-rongga tubuh. Oleh
karena itu, lebih sedikit darah yang bersirkulasi (atau berputar di
dalam tubuh) di dalam pembuluh darah. Tekanan darah orang tersebut
menjadi sangat rendah sehingga jantungnya tidak dapat memasok cukup
darah ke organ vital (yang paling penting). Sumsum tulang juga tidak
dapat membuat cukup platelet yang dibutuhkan darah agar bisa membeku
dengan benar. Tanpa cukup platelet, orang tersebut akan memiliki masalah
pendarahan. Pendarahan adalah komplikasi berat dari dengue (satu dari
masalah yang paling berat yang diakibatkan oleh penyakit tersebut).
[21]
Diagnosis
Biasanya, profesional pelayanan kesehatan mendiagnosis dengue dengan
cara memeriksa pasien dan menyadari bahwa gejala-gejalanya cocok dengan
dengue. Profesional pelayanan kesehatan khususnya akan dapat
mendiagnosis dengue dengan cara ini di wilayah di mana penyakit ini
banyak terjadi.
[1]
Namun, apabila dengue masih dalam fase awalnya, sulit untuk
membedakannya dengan infeksi virus lainnya (infeksi yang disebabkan oleh
virus).
[5]
Seorang pasien mungkin menderita dengue jika dia demam dan dua dari
gejala berikut ini: mual dan muntah; ruam; generalized pains (pain all
over); jumlah sel darah putih sedikit; atau hasil tes tourniquet yang
positif. Tanda-tanda plus demam biasanya merupakan sinyal bahwa pasien
tersebut menderita dengue di wilayah di mana penyakit tersebut banyak
terjadi
[22].
Tanda peringatan biasanya akan tampak sebelum dengue menjadi parah.
[8] Tes tourniquet berguna apabila tes
laboratorium
tidak dapat dilakukan. Untuk melakukan tes tourniquet, profesional
pelayanan kesehatan akan membebatkan alat pengukur tekanan darah di
lengan pasien selama 5 menit. Petugas kesehatan tersebut akan menghitung
bintik-bintik merah kecil di kulit pasien. Jumlah bintik yang semakin
banyak berarti bahwa orang tersebut mungkin menderita demam dengue.
[8]
Sulit membedakan demam dengue dan chikungunya. Chikungunya adalah
infeksi virus yang mirip dan memiliki banyak gejala yang sama dengan
dengue, dan terjadi di wilayah yang sama di dunia.
[7] Dengue juga dapat memiliki gejala yang sama seperti penyakit lainnya, seperti
malaria,
leptospirosis,
demam tifoid, and
penyakit meningokokus.
Seringkali, sebelum seseorang terdiagnosis dengue, petugas kesehatan
yang menanganinya akan melakukan tes untuk memastikan bahwa pasien tidak
mengalami satu dari kondisi-kondisi ini.
[5]
Jika seseorang menderita dengue, perubahan paling awal yang dapat
dilihat pada tes laboratorium adalah jumlah sel darah putih yang
sedikit. Jumlah platelet yang sedikit dan asidosis metabolik juga
merupakan tanda-tanda dengue.
[5]
Jika seseorang terserang dengue parah, terdapat perubahan lainnya yang
dapat dilihat jika darahnya diteliti. Dengue yang parah menyebabkan
cairan keluar dari aliran darah. Ini menyebabkan hemokonsentrasi (di
mana terdapat lebih sedikit plasma – bagian yang cair dari darah – dan
lebih banyak
sel darah merah di dalam darah). Ini juga menyebabkan level albumin yang rendah di dalam darah.
[5]
Terkadang, dengue yang parah menyebabkan efusi pleura yang besar (cairan yang bocor menumpuk di sekitar
paru-paru)
atau asites (cairan menumpuk di abdomen). If these are large enough, a
health care professional may notice them when he examines the person.
[5] Profesional pelayanan kesehatan dapat mendiagnosis shock dengue dari awal jika dia dapat menggunakan alat
ultrasound medis untuk mendeteksi adanya cairan tersebut di dalam tubuh.
[1][5]
Tetapi di beberapa wilayah di mana dengue adalah penyakit yang biasa
menyerang, para profesional pelayanan kesehatan dan klinik tidak
memiliki mesin ultrasound.
[1]
Klasifikasi
Pada 2009,
World Health Organization (WHO) mengklasifikasikan, atau membagi, demam dengue ke dalam dua jenis: tanpa komplikasi dan parah.
[1][22]
Sebelum ini, pada 1997, WHO telah membagi penyakit tersebut ke dalam
demam yang tidak terdiferensiasi (tidak dapat digolongkan), demam
dengue, dan demam berdarah. WHO memutuskan bahwa cara lama pembagian
dengue ini harus disederhanakan. Mereka juga menetapkan bahwa cara
tersebut terlalu membatasi: tidak mencakup semua cara yang diperlihatkan
pada dengue. Meskipun klasifikasi dengue telah diubah secara resmi,
klasifikasi lama tersebut masih sering digunakan.
[5][22][23]
Dalam sistem lama WHO untuk klasifikasi, demam berdarah dibagi ke dalam empat fase, yang disebut tingkat I–IV:
- Pada Tingkat I, pasien menderita demam. Dia mudah melebam atau memiliki hasil tes tourniquet yang positif.
- Pada Tingkat II, pasien mengeluarkan darah melalui kulit dan bagian lain tubuhnya.
- Pada Tingkat III, pasien menunjukkan tanda-tanda renjatan sirkulasi.
- Pada Tingkat IV, pasien mengalami renjatan yang sangat parah sehingga tekanan darah dan detak jantungnya tidak dapat dirasakan.[23] Tingkat III dan IV disebut "sindrom renjatan dengue."[22][23]
Tes laboratorium
Demam dengue dapat didiagnosis menggunakan pengujian laboratorium
mikrobiologis.
[22]
Beberapa tes berbeda dapat dilakukan. Satu tes (isolasi virus)
mengisolasi (atau memisahkan) virus dengue dalam kultur (atau sampel)
sel. Tes lainnya (deteksi asam nukleat) mencari
asam nukleat dari virus, menggunakan teknik yang disebut
reaksi rantai polimerase (PCR). Tes ketiga (deteksi antigen) mencari
antigen dari virus. Tes lainnya mencari
beberapa antibodi di dalam darah yang dibuat oleh tubuh untuk memerangi virus dengue.
[20][24]
Tes isolasi virus dan deteksi asam nukleus bekerja lebih baik daripada
deteksi antigen. Namun, tes ini lebih mahal, sehingga tidak tersedia di
banyak fasilitas kesehatan.
[24]
Apabila dengue masih dalam tahap awal penyakit, semua hasil tes mungkin
negatif (berarti bahwa hasil tes tersebut tidak menunjukkan bahwa
pasien menderita penyakit tersebut).
[5][20]
Kecuali tes antibodi, tes laboratorium hanya dapat mendiagnosis demam
dengue selama fase akut (awal) dari penyakit tersebut. Namun, tes
antibodi dapat memastikan bahwa orang tersebut menderita dengue dalam
fase berikutnya dari infeksti tersebut. Tubuh membuat antibodi yang
secara khusus memerangi virus dengue setelah 5 hingga 7 hari.
[7][20][25]
Pencegahan
Terdapat dua vaksin yang telah disetujui sebagai vaksin untuk mencegah manusia agar tidak terserang virus dengue.
[1]
Untuk mencegah infeksi, World Health Organization (WHO) menyarankan
pengendalian populasi nyauk dan melindungi masyarakat dari gigitan
nyamuk.
[13][26]
WHO menganjurkan program untuk mencegah dengue (disebut program
"Integrated Vector Control") yang mencakup lima bagian yang berbeda:
- Advokasi, menggerakkan masyarakat, dan legislasi (undang-undang) harus digunakan agar organisasi kesehatan masyarakat dan masyarakat menjadi lebih kuat.
- Semua bagian masyarakat harus bekerja bersama. Ini termasuk sektor umum (seperti pemerintah), sektor swasta (seperti bisnisperusahaan), dan bidang perawatan kesehatan.
- Semua cara untuk mengendalikan penyakit harus harus terintegrasi (atau dikumpulkan), sehingga sumber daya yang tersedia dapat memberikan hasil yang paling besar.
- Keputusan harus dibuat berdasarkan pada bukti. Ini akan membantu
memastikan bahwa intervensi (tindakan yang dilakukan untuk mengatasi
dengue) berguna.
- Wilayah di mana dengue menjadi masalah harus diberi bantuan,
sehingga mereka dapat meningkatkan kemampuan mereka untuk merespon
dengan baik penyakit dengan usaha mereka sendiri.[13]
WHO juga menyarankan beberapa tindakan khusus untuk mengendalikan dan
menghindarkan gigitan nyamuk. Cara terbaik untuk mengendalikan nyamuk
“Aedes aegypti” adalah dengan menyingkirkan habitatnya.
[13]
Masyarakat harus mengosongkan wadah air yang terbuka (sehingga nyamuk
tidak dapat bertelur di dalam wadah-wadah terbuka tersebut).
Insektisida atau agen-agen
pengendali biologi juga dapat digunakan untuk mengendalikan nyamuk di wilayah-wilayah ini.
[13] Para ilmuwan berpendapat bahwa menyemprotkan insektisida organofosfat atau piretroid tidak membantu.
[3]
Air diam (tidak mengalir) harus dibuang karena air tersebut menarik
nyamuk, dan juga karena manusia dapat terkena masalah kesehatan jika
insektisida menggenang di dalam air diam.
[13]
Untuk mencegah gigitan nyamuk, orang-orang dapat memakai pakaian yang
menutup kulit mereka sepenuhnya. Mereka juga dapat menggunakan anti
nyamuk (seperti semprotan nyamuk), yang membantu menjauhkan nyamuk.
(DEET paling ampuh.) Orang-orang juga dapat menggunakan kelambu saat
beristirahat.
[14]
Manajemen
Tidak ada perawatan khusus untuk demam dengue.
[1]
Orang yang berbeda memerlukan perawatan yang berbeda pula, bergantung
pada gejala mereka. Sebagian dari mereka dapat membaik hanya dengan
meminum banyak cairan di rumah, kemudian profesional pelayanan kesehatan
akan memastikan keadaan kesehatan mereka telah membaik. Sedangkan
sebagian orang memerlukan cairan infus dan transfusi darah.
[27]
Profesional pelayanan kesehatan dapat menentukan untuk merujuk pasien
ke rumah sakit jika pasien mengalami tanda-tanda peringatan serius,
khususnya jika pasien tersebut telah mengalami kondisi kesehatan kronis.
[5]
Apabila orang-orang yang terinfeksi memerlukan cairan melalui infus,
mereka biasanya memerlukan infus hanya selama satu atau dua hari.
[27]
Profesional pelayanan kesehatan akan meningkatkan jumlah cairan yang
diberikan sehingga pasien tersebut memberikan volume tertentu
urin (0,5–1 ml/kg/jam). Cairan infus juga ditambah hingga hematokrit (jumlah
iron di dalam darah) pasien dan tanda-tanda vital pasien kembali normal.
[5]
Karena risiko perdarahan, profesional pelayanan kesehatan mencoba untuk
tidak menggunakan prosedur medis invasif seperti intubasi nasogastrik
(memasukkan tube melalui hidung pasien ke dalam perut), injeksi
intramuskular (menyuntikkan obat ke dalam otot), dan suntikan arteri
(memasukkan jarum ke dalam arteri).
[5] Asetaminofen (Tylenol) dapat diberikan untuk demam dan nyeri. Jenis obat anti-peradangan yang dinamakan
NSAID (seperti ibuprofen dan aspirin) tidak boleh digunakan karena obat tersebut dapat memperbesar risiko perdarahan.
[27]
Transfusi darah harus dimulai lebih awal jika tanda-tanda vital pasien
berubah atau tidak normal, dan jika jumlah sel darah merahnya menurun.
[28]
Jika transfusi diperlukan, pasien harus diberi darah utuh (darah yang
belum dipisah-pisahkan) atau dikemas dalam kantung darah dalam bentuk
sel darah merah. Platelet (dipisahkan dari darah utuh) dan plasma segar
yang dibekukan biasanya tidak dianjurkan.
[28]
Jika seorang pasien dalam masa pemulihan dari dengue, dia biasanya
tidak akan diberi cairan infus lagi sehingga pasien tidak mengalami
kelebihan cairan.
[5]
Jika kelebihan cairan terjadi, namun tanda-tanda vitalnya masih stabil
(tidak berubah), maka ini menjadi alasan yang cukup untuk menghentikan
pemberian cairan.
[28]
Jika pasien tidak lagi berada dalam masa kritis, pasien bisa diberikan
diuretik furosemide (Lasix). Ini dapat membantu mengeluarkan cairan
berlebih dari sirkulasi darah pasien.
[28]
Kemungkinan
Sebagian besar orang yang terkena dengue pulih dan baik-baik saja.
[22] Tanpa pengobatan, 1 hingga 5% dari orang yang terinfeksi (1 hingga 5 dari 100 orang) meninggal karena dengue.
[5] Dengan perawatan yang baik, kurang dari 1% meninggal.
[22] Namun, pada orang dengan dengue parah 26% meninggal (26 dari 100).
[5]
Dengue banyak terjadi di lebih dari 110 negara.
[5]
Setiap tahun, dengue menginfeksi 50 hingga 100 juta orang di seluruh
dunia. Penyakit ini juga menyebabkan setengah juta perawatan di rumah
sakit
[1] dan sekira 12.500 hingga 25.000 kematian di seluruh dunia setiap tahunnya.
[6][29]
Dengue adalah penyakit yang diakibatkan oleh virus dan paling banyak terjadi yang disebarkan oleh
arthropod.
[12]
Dengue diperkirakan telah menjadi beban penyakit dari sekira 1600 tahun
hidup tuna upaya (DALYS) per juta populasi. Ini berarti bahwa dalam
setiap satu juta orang, dengue menyebabkan hilangnya kehidupan sekira
1600 tahun. Ini kira-kira sama dengan beban penyakit seperti penyakit
anak-anak dan penyakit tropis. Ini sama dengan yang diakibatkan oleh
penyakit pada anak-anak dan penyakit tropis lain.
[20] Dengue dianggap sebagai penyakit terpenting kedua, setelah
malaria.
[5]
World Health Organization juga mengakui dengue sebagai satu dari
penyakit tropis yang diabaikan (berarti bahwa dengue tidak ditangani
secara cukup serius sebagaimana mestinya).
[30]
Dengue semakin merajalela di seluruh dunia. Pada 2010, dengue 30 kali lebih umum daripada pada 1960.
[31]
Beberapa hal yang dianggap sebagai penyebab peningkatan dengue. Lebih
banyak pasien yang terdampak tinggal di kota besar. Populasi dunia
(jumlah manusia di dunia) semakin besar. Lebih banyak orang yang
bepergian secara internasional (dari satu negara ke negara lainnya).
Pemanasan global juga dianggap telah berperan dalam peningkatan dengue tersebut.
[1]
Dengue paling sering terjadi di sekitar
ekuator. 2,5 miliar penduduk tinggal di wilayah di mana dengue terjadi. 70% dari populasi ini tinggal di Asia dan wilayah Pasifik.
[31]
Di Amerika Serikat, 2,9% hingga 8% dari penduduknya yang baru kembali
dari wilayah di mana dengue terjadi, kemudian mereka mengalami demam,
terinfeksi ketika sedang melancong.
[14] Pada kelompok ini, dengue merupakan infeksi kedua yang paling banyak terdiagnosis, setelah after malaria.
[7]
Sejarah
Dengue pertama kali ditulis bertahun-tahun yang lalu. Ensiklopedia
medis China dari Dinasti Jin (yang berjaya dari 265 hingga 420 AD)
menceritakan tentang seorang yang mungkin mengalami dengue. Buku
tersebut menceritakan tentang “racun air” yang berhubungan dengan
serangga yang terbang.
[32][33] Terdapat juga catatan tertulis dari abad ke-17 (1600an) tentang apa yang mungkin menjadi
epidemik
dengue (yakni ketika penyakit menyebar dengan sangat cepat dalam waktu
singkat). Laporan-laporan yang paling awal tentang kemugkinan epidemik
dengue adalah dari tahun 1779 dan 1780. Laporan ini bercerita tentang
epidemik yang menyapu Asia, Afrika, dan Amerika Utara.
[33] Sejak saat itu hingga 1940, tidak banyak lagi epidemik.
[33]
Pada 1906, para ilmuwan membuktikan bahwa manusia terkena infeksi dari nyamuk
Aedes.
Pada 1907, para ilmuwan menunjukkan bahwa viruslah yang menyebabkan
dengue. Ini adalah penyakit kedua yang ditunjukkan sebagai penyakit yang
disebabkan oleh virus. (Sebelumnya para ilmuwan telah membuktikan bahwa
viruslah yang menyebabkan sakit kuning.)
[34] John Burton Cleland dan Joseph Franklin Siler terus meneliti virus dengue, dan mengetahui cara dasar virus menyebar.
[34]
Dengue mulai menyebar dengan jauh lebih cepat selama dan setelah
Perang Dunia Kedua. Ini diperkirakan karena perang tersebut mengubah
lingkungan
dengan cara berbeda. Jenis dengue berbeda juga menyebar ke wilayah
baru.Untuk pertama kalinya, manusia mulai mengalami demam berdarah
dengue. Bentuk penyakit yang parah ini pertama kali dilaporkan di
Filipina pada 1953. Pada 1970an, demam berdarah dengue telah menjadi
penyebab utama kematian pada anak-anak. Penyakit tersebut juga mulai
terjadi di wilayah Pasifik dan Amerika.
[33]
Demam berdarah dengue serta sindrom renjat dengue pertama kali
dilaporkan di Amerika Tengah dan Selatan pada 1981. Pada saat itu,
profesional pelayanan kesehatan mengetahui bahwa orang yang terkena
virus dengue jenis 1 terkena dengue tipe 2 beberapa tahun kemudian.
[11]
Sejarah di Dunia
Tidak ada kejelasan dari bahasa apa kata "dengue" berasal. Beberapa orang berpendapat bahwa kata tersebut dari frasa
Ka-dinga pepo Swahili. Frasa ini menceritakan bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh arwah jahat.
[32] Kata Swahili
dinga diperkirakan berasal dari kata
dengue Spanyol.
Kata ini berarti "berhati-hati". Kata itu mungkin sebelumnya digunakan
untuk menggambarkan orang yang menderita nyeri tulang akibar demam
dengue; nyeri itu akan menyebabkan penderita berjalan dengan hati-hati.
[35] Namun, kemungkinan juga kata dalam bahasa Spanyol tersebut berasal dari kata dalam bahasa Swahili, dan bukan sebaliknya.
[32]
Orang-orang lain berpendapat bahwa nama "dengue" berasal dari
West Indies.
Di West Indies, budak yang mengalami dengue disebut-sebut bahwa mereka
berdiri dan berjalan seperti seorang yang "flamboyan". Oleh karenanya,
penyakit tersebut juga disebut sebagai "demam flamboyan."
[36][37]
Istilah "breakbone fever" pertama kali digunakan oleh Benjamin Rush, seorang dokter dan merupakan Bapak Pendiri Amerika Serikat
"Bapak Pendiri".
Pada 1789, Rush menggunakan istilah "breakbone fever" dalam laporan
mengenai kejadian luar biasa dengue 1780 di Philadelphia. Dalam laporan
tersebut, Rush lebih banyak menggunakan istilah yang lebih formal
"bilious remitting fever".
[38][39] Istilah "demam dengue" belum banyak digunakan hingga setelah 1828.
[37]
Sebelumnya, orang-orang menggunakan nama berbeda untuk penyakit ini.
Contohnya, dengue juga disebut "breakheart fever" dan "la dengue."
[37]
Nama lain juga digunakan untuk dengue parah: contohnya, "infectious
thrombocytopenic purpura", "Philippine," "Thai," dan "Singapore
hemorrhagic fever."
[37]
Penelitian
Para ilmuwan terus melakukan
riset untuk cara pencegahan dan pengobatan dengue. Orang-orang juga berupaya untuk mengendalikan nyamuk,
[40] membuat vaksin, dan membuat obat-obatan untuk memerangi virus tersebut.
[26]
Banyak hal sederhana telah dilakukan untuk mengendalikan nyamuk. Beberapa di antaranya telah berhasil. Contohnya,
guppies (
Poecilia reticulata) atau
copepod dapat diletakkan di dalam air yang menggenang untuk memakan
larvae (telur) nyamuknya.
[40]
Para ilmuwan terus berusaha untuk menciptakan vaksin untuk melindungi manusia dari keempat jenis dengue.
[26]
Beberapa ilmuwan mengkhawatirkan bahwa vaksin dapat meningkatkan risiko
keparahan penyakit melalui antibody-dependent enhancement (ADE).
[41]
Vaksin yang terbaik yang dapat digunakan biasanya memiliki beberapa
kualitas berbeda. Pertama, vaksin aman. Kedua, vaksin akan bekerja
setelah satu atau dua injeksi (atau suntikan). Ketiga, vaksin akan
melawa semua jenis virus dengue. Keempat, vaksin tidak akan menyebabkan
ADE. Kelima, vaksin akan mudah berpindah (bergerak) dan tersimpan
(tersimpan hingga diperlukan. Keenam, vaksin berbiaya rendah dan efektif
(sesuai biayanya).
[41] Beberapa vaksin telah diuji pada 2009.
[20][38][41] Para ilmuwan berharap agar vaksin pertama (atau beberapa vaksin) akan tersedia secara komersial (dapat dibeli) pada 2015.
[26]
Para ilmuwan juga terus bekerja untuk membuat obat antivirus untuk
mengobati serangan demam dengue dan mencegah agar manusia tidak terkena
komplikasi parah.
[42][43]
Mereka juga berusaha untuk mengetahui bagaimana protein virus tersebut
tersusun. Ini mungkin dapat membantu mereka untuk membuat obat-obatan
yang bekerja efektif mengobati dengue.
[43]
Catatan
- ^ a b c d e f g h i j k Whitehorn J, Farrar J (2010). "Dengue". Br. Med. Bull. 95: 161–73. doi:10.1093/bmb/ldq019. PMID 20616106.
- ^ a b c WHO (2009), pp. 14–16.
- ^ a b c Reiter P (2010-03-11). "Yellow fever and dengue: a threat to Europe?". Euro Surveil 15 (10): 19509. PMID 20403310.
- ^ Gubler (2010), p. 379.
- ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa Ranjit S, Kissoon N (July 2010). "Dengue hemorrhagic fever and shock syndromes". Pediatr. Crit. Care Med. 12 (1): 90–100. doi:10.1097/PCC.0b013e3181e911a7. PMID 20639791.
- ^ a b c d e Varatharaj A (2010). "Encephalitis in the clinical spectrum of dengue infection". Neurol. India 58 (4): 585–91. doi:10.4103/0028-3886.68655. PMID 20739797.
- ^ a b c d e f g h Chen LH, Wilson ME (October 2010). "Dengue and chikungunya infections in travelers". Curr. Opin. Infect. Dis. 23 (5): 438–44. doi:10.1097/QCO.0b013e32833c1d16. PMID 20581669.
- ^ a b c d e f g h i j k l WHO (2009), pp. 25–27.
- ^ a b Wolff K, Johnson RA (eds.) (2009). "Viral Infections of Skin and Mucosa". Fitzpatrick's Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology (ed. 6th). New York: McGraw-Hill Medical. hlm. 810–2. ISBN 9780071599757.
- ^ a b Knoop KJ, Stack LB, Storrow A, Thurman RJ (eds.) (2010). "Tropical Medicine". Atlas of Emergency Medicine (ed. 3rd). New York: McGraw-Hill Professional. hlm. 658–9. ISBN 0071496181.
- ^ a b c d e Gould EA, Solomon T (February 2008). "Pathogenic flaviviruses". The Lancet 371 (9611): 500–9. doi:10.1016/S0140-6736(08)60238-X. PMID 18262042.
- ^ a b Rodenhuis-Zybert
IA, Wilschut J, Smit JM (August 2010). "Dengue virus life cycle: viral
and host factors modulating infectivity". Cell. Mol. Life Sci. 67 (16): 2773–86. doi:10.1007/s00018-010-0357-z. PMID 20372965.
- ^ a b c d e f WHO (2009), pp. 59–60.
- ^ a b c Center for Disease Control and Prevention. "Chapter 5 – Dengue Fever (DF) and Dengue Hemorrhagic Fever (DHF)". 2010 Yellow Book. Diakses 2010-12-23.
- ^ Gubler (2010), pp. 377–78.
- ^ Wilder-Smith A, Chen LH, Massad E, Wilson ME (January 2009). "Threat of Dengue to Blood Safety in Dengue-Endemic Countries". Emerg. Infect. Dis. 15 (1): 8–11. doi:10.3201/eid1501.071097. PMC 2660677. PMID 19116042.
- ^ Stramer SL, Hollinger FB, Katz LM, et al. (August 2009). "Emerging infectious disease agents and their potential threat to transfusion safety". Transfusion. 49 Suppl 2: 1S–29S. doi:10.1111/j.1537-2995.2009.02279.x. PMID 19686562.
- ^ Teo D, Ng LC, Lam S (April 2009). "Is dengue a threat to the blood supply?". Transfus Med 19 (2): 66–77. doi:10.1111/j.1365-3148.2009.00916.x. PMC 2713854. PMID 19392949.
- ^ Wiwanitkit V (January 2010). "Unusual mode of transmission of dengue". Journal of Infection in Developing Countries 4 (1): 51–4. PMID 20130380.
- ^ a b c d e f g Guzman MG, Halstead SB, Artsob H, et al. (December 2010). "Dengue: a continuing global threat". Nat. Rev. Microbiol. 8 (12 Suppl): S7–S16. doi:10.1038/nrmicro2460. PMID 21079655.
- ^ Martina BE, Koraka P, Osterhaus AD (October 2009). "Dengue Virus Pathogenesis: an Integrated View". Clin. Microbiol. Rev. 22 (4): 564–81. doi:10.1128/CMR.00035-09. PMC 2772360. PMID 19822889.
- ^ a b c d e f g WHO (2009), pp. 10–11.
- ^ a b c WHO (1997). "Chapter 2: clinical diagnosis". Dengue haemorrhagic fever: diagnosis, treatment, prevention and control (ed. 2nd). Geneva: World Health Organization. hlm. 12–23. ISBN 9241545003.
- ^ a b WHO (2009), pp. 90–95.
- ^ Gubler (2010), p. 380.
- ^ a b c d WHO (2009), p. 137.
- ^ a b c WHO (2009), pp. 32–37.
- ^ a b c d WHO (2009), pp. 40–43.
- ^ WHO media centre (March 2009). "Dengue and dengue haemorrhagic fever". World Health Organization. Diakses 2010-12-27.
- ^ Neglected Tropical Diseases. "Diseases covered by NTD Department". World Health Organization. Diakses 2010-12-27.
- ^ a b WHO (2009), p. 3.
- ^ a b c Anonymous (2006). "Etymologia: dengue". Emerg. Infec. Dis. 12 (6): 893.
- ^ a b c d Gubler DJ (July 1998). "Dengue and Dengue Hemorrhagic Fever". Clin. Microbiol. Rev. 11 (3): 480–96. PMC 88892. PMID 9665979.
- ^ a b Henchal EA, Putnak JR (October 1990). "The dengue viruses". Clin. Microbiol. Rev. 3 (4): 376–96. doi:10.1128/CMR.3.4.376. PMC 358169. PMID 2224837.
- ^ Harper D (2001). "Etymology: dengue". Online Etymology Dictionary. Diakses 2008-10-05.
- ^ Anonymous (1998-06-15). "Definition of Dandy fever". MedicineNet.com. Diakses 2010-12-25.
- ^ a b c d Halstead SB (2008). Dengue (Tropical Medicine: Science and Practice). River Edge, N.J: Imperial College Press. hlm. 1–10. ISBN 1-84816-228-6.
- ^ a b Barrett AD, Stanberry LR (2009). Vaccines for biodefense and emerging and neglected diseases. San Diego: Academic. hlm. 287–323. ISBN 0-12-369408-6.
- ^ Rush
AB (1789). "An account of the bilious remitting fever, as it appeared
in Philadelphia in the summer and autumn of the year 1780". Medical enquiries and observations. Philadelphia: Prichard and Hall. hlm. 104–117.
- ^ a b WHO (2009), p. 71.
- ^ a b c Webster DP, Farrar J, Rowland-Jones S (November 2009). "Progress towards a dengue vaccine". Lancet Infect Dis 9 (11): 678–87. doi:10.1016/S1473-3099(09)70254-3. PMID 19850226.
- ^ Sampath A, Padmanabhan R (January 2009). "Molecular targets for flavivirus drug discovery". Antiviral Res. 81 (1): 6–15. doi:10.1016/j.antiviral.2008.08.004. PMC 2647018. PMID 18796313.
- ^ a b Noble CG, Chen YL, Dong H, et al. (March 2010). "Strategies for development of Dengue virus inhibitors". Antiviral Res. 85 (3): 450–62. doi:10.1016/j.antiviral.2009.12.011. PMID 20060421.
-